Waspadai Risiko Komplikasi Saat Kehamilan

Dalam periode kehamilan, kamu tentunya sangat berhati-hati untuk menjaga kandungan dalam perut agar tetap sehat dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Hanya saja, tanpa disadari banyak sekali risiko komplikasi yang bisa menimpa kamu para ibu hamil. Oleh sebab itu, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ada baiknya kamu mengenali beberapa risiko komplikasi berikut ini agar bisa melakukan tindakan pencegahan. Apa saja, ya?

Kehamilan anggur. Pernah dengar mengenai hamil anggur? Hamil anggur atau yang dikenal juga sebagai kehamilan yang gagal merupakan sebuah kondisi di mana terjadi kelainan pada proses perkembangan sel telur setelah dibuahi sehingga gagal tumbuh menjadi janin. Hingga saat ini, kehamilan anggur masih belum dapat dideteksi penyebabnya sehingga diagnosis sedini mungkin terhadap kondisi ini sangatlah disarankan.
Plasenta Previa. Plasenta Previa atau perlekatan plasenta merupakan suatu kondisi ketika plasenta menutupi leher rahim sehingga berpotensi untuk menutupi jalan lahir. Kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi saat kehamilan berupa pendarahan, terutama ketika kamu mengalami kontraksi. Jika hal ini terjadi, mengingat jalan lahir sudah tertutup, dokter biasanya akan menyarankan untuk operasi cesar agar pendarahan tidak berlanjut.
Preeklampsia. Preeklampsia merupakan kondisi yang sering menimpa ibu hamil, terutama ketika usia kehamilan sudah memasuki minggu ke-20 atau lebih. Komplikasi ini cukup membahayakan, sebab kondisi ini seringnya tidak disadari oleh ibu hamil. Padahal, preeklampsia menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu dan janinnya, lho. Meski hingga saat ini penyebab pasti preeklampsia masih belum diketahui, kamu disarankan untuk melakukan pengaturan makanan, istirahat yang cukup, dan mengawasi kehamilan untuk menurunkan risiko preeklampsia ini.
Kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik merupakan sebuah kondisi di mana pembuahan sel telur terjadi di luar rahim. Biasanya, hal ini terjadi di dalam tuba falopi atau di saluran telur. Diagnosa mengenai komplikasi kehamilan ini penting untuk dideteksi sedini mungkin agar tidak membahayakan ibu hamil dan bisa ditangani secara lebih lanjut.
Diabetes Gestasional. Komplikasi lain yang sering menghantui ibu hamil adalah diabetes gestasional. Diabetes gestasional sendiri merupakan tipe diabetes yang sering berkembang selama periode kehamilan. Jika kamu mengidap diabetes gestasional, jangan khawatir sebab penderita diabetes ini tetap bisa memiliki kehamilan yang sehat jika menjalani serangkaian terapi. Dan lagi, seringnya diabetes ini sembuh setelah kamu berhasil melahirkan si kecil. Hanya saja, risiko untuk mengidap diabetes tipe 2 akan lebih besar jika kamu sudah pernah mengidap diabetes gestasional sebelumnya.
Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Untuk kamu yang punya kebiasaan merokok, sebaiknya harus berhati-hati nih. Sebab kebiasaan merokok ketika hamil bisa menimbulkan komplikasi pada janin seperti lahir prematur, cacat lahir, atau bahkan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) yang berujung pada kematian bayi.
Nah, mengingat beberapa kondisi komplikasi di atas bisa sangat membahayakan untuk kamu dan janin di dalam perut, menemui dokter kandungan dan melakukan pemeriksaan secara rutin sangatlah disarankan. Tidak hanya itu, menjaga kandungan agar tetap sehat dengan mengontrol makanan yang masuk dan beristirahat yang cukup juga harus dilakukan.

Sumber : Prenagen

Inilah 5 Cara Relaksasi Pada Ibu Hamil

Pada saat hamil, stres adalah salah satu pantangan yang tidak boleh dirasakan oleh Ibu. Sebab stres yang berkepanjangan dapat berdampak buruk pada janin, di antaranya menyebabkan kelainan proses pembentukan otak janin, menghambat tumbuh kembang janin, dan bisa menyebabkan Ibu mengalami persalinan prematur. Sayangnya stres bukanlah sesuatu yang bisa dihindari karena kondisi lingkungan maupun perubahan hormon yang dialami oleh Ibu.

Meskipun begitu, Ibu bisa mencegah efek negatifnya pada janin dengan segera mengelola stres tersebut dengan cara yang tepat. Mereleksasi pikiran adalah salah satu cara ampuh untuk mengatasi stres, dan berikut ini adalah 5 cara releksasi yang aman untuk Ibu coba:

1. Atur Pernapasan

Mengatur pernapasan adalah salah satu cara relaksasi yang terlihat mudah namun sebenarnya cukup sulit. Ibu bisa melakukannya dengan posisi duduk ataupun berbaring, yang penting Ibu berada dalam posisi santai. Pejamkan mata dan carilah posisi terbaik untuk otot Ibu, kemudian tarik napas dari hidung secara perlahan. Lakukan 10-12 menit setiap harinya untuk membuat tubuh terasa nyaman.

2. Lakukan Hobi

Lakukanlah hobi Ibu selama hal tersebut tidak akan mengganggu atau membahayakan kandungan. Misalnya hobi membaca, menulis, atau menonton. Jika hobi Ibu adalah memasak, pastikan bahwa Ibu tidak sensitif dengan bau-bauan yang berisiko meningkatkan rasa mual dan muntah. Sebab jika dipaksakan akan memberi dampak buruk pada janin.

3. “Membiasakan Snacking yang Sehat”

Ibu hamil disarankan untuk memiliki snacking time. Tentunya, snack yang dikonsumsi adalah snack sehat yang aman.

4. Berjalan-jalan

Manfaatkan waktu kosong yang Ibu punya dengan berjalan-jalan. Jika memungkinkan, Ibu bisa menenangkan pikiran dengan berwisata. Namun jika tidak, Ibu juga bisa berjalan-jalan ke area taman sekitar tempat tinggal. Berjalan-jalan dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar akan membantu Ibu merasa rileks.

5. Senam Hamil

Ibu mungkin mengalami stres akibat membayangkan rasa sakit yang dirasakan saat persalinan. Senam hamil ini akan membantu mengurangi kecemasan tersebut. Pada saat senam hamil, Ibu akan diajarkan bagaimana teknik pernapasan dan cara mengejan yang benar agar persalinan lancar. Senam hamil juga dapat mengurangi beberapa keluhan yang Ibu rasakan selama kehamilan. Bagi Ibu yang berencana melakukan senam hamil, disarankan untuk mulai melakukannya sejak kandungan memasuki usia 28 minggu.

Dengan melakukan kelima hal di atas secara rutin, tubuh maupun pikiran Ibu akan menjadi relaks sehingga dapat terhindar dari stres.

Sumber : Prenagen

Inilah Penyebab Emosi Bumil Naik Turun Saat Hamil

Ketika hamil, akan ada masa di mana mood ibu hamil bisa berubah secara drastis. Misalnya, bisa tiba-tiba senang, marah, sedih, resah, dan gelisah terhadap hal-hal kecil. Kondisi ini muncul akibat dari adanya peningkatan hormon estrogen, progesteron, serta kortisol sehingga mengakibatkan terjadinya pergolakan emosi pada tubuh ibu hamil. Selain itu, perubahan metabolisme, reproduksi, dan stress fisik pun bisa menjadi pemicu mengapa emosi ibu hamil bisa naik turun saat hamil.

Berbicara mengenai emosi pada ibu hamil, setidaknya ada beberapa perubahan emosi yang bisa dihadapi oleh ibu hamil selama masa kehamilan. Simak langsung pembahasannya!

Trimester pertama (0-3 bulan kehamilan). Trimester pertama kehamilan ini sering disebut sebagai masa kekhawatiran bagi ibu hamil. Sebab meningkatnya hormon estrogen serta progesteron dalam tubuh menyebabkan ibu hamil sering mengalami morning sickness. Tidak hanya itu, ibu hamil pun lebih mudah lelah, kehilangan banyak energi, tidak nyaman dengan kehamilan, ketakutan akan persalinan, dan lainnya. Kondisi inilah yang dapat membuat ibu hamil menjadi lebih sensitif dan emosional terhadap sesuatu.
Trimester kedua (4-6 bulan kehamilan). Pada masa ini, ibu hamil merasa sedikit tenang dan sering tersenyum. Sebab, morning sickness yang dialami pada trimester pertama kehamilan sudah mulai berkurang. Di samping itu, ibu hamil pun mulai terbiasa dengan perubahan fisik yang dialami seperti payudara membesar, perut membuncit, serta kulit semakin cerah sehingga membuatnya terlihat lebih percaya diri dan rileks.
Trimester ketiga (7-9 bulan kehamilan). Dalam kurun waktu ini, biasanya ibu hamil lebih frustasi dari bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan karena perut yang semakin membesar sehingga menyulitkan ibu hamil dalam bergerak, entah itu ketika mengatur posisi tidur, membungkukkan badan ke depan, mengambil benda yang terjatuh, dan sebagainya. Ditambah lagi dengan hormon estrogen dan progesteron sedang berada di puncak tertinggi, yang mana dapat menyebabkan mood swing dan kecemasan berlebih pada ibu hamil.
Untuk mengatasi emosi yang naik turun selama hamil ini, Ibu bisa mengatasinya dengan cara;

Melakukan olahraga ringan khusus bagi ibu hamil.
Diet makanan sehat serta mengonsumsi jus untuk ibu hamil. Jika ingin yang praktis, Ibu bisa konsumsi PRENAGEN juice yang terbuat dari ekstrak buah asli. Tersedia dalam dua varian rasa yang menyegarkan, Pome& Grape dan Fruit & Veggie. PRENAGEN Juice merupakan snacking drink sumber asam folat dan tinggi vitamin C yang baik untuk Ibu dan janin.
Mengurangi kebiasaan buruk yang bisa memicu stress.
Istirahat yang cukup.
Manjakan diri dengan melakukan pijat hamil, mendengarkan musik, menonton konser, dan lainnya.
Selain cara di atas, Ibu pun bisa berkonsultasi langsung dengan dokter kandungan. Ceritakan seluruh keluhan yang Ibu alami selama hamil kepada dokter. Dengan begini, tentu dapat membuat emosi Ibu pun sedikit teratasi.

Sumber : Prenagen

Cara Praktis Mengatasi Keluahan Saat Hamil

Beberapa perubahan kadar hormon maupun perkembangan janin, menjadikan Ibu hamil sering mengalami keluhan saat hamil akan berdampak terhadap rutinitas. Ibu hamil akan merasakan banyak perubahan selama 3 bulan pertama kehamilan, seperti merasakan mual, lelah, perubahan mood, nyeri punggung, merasakan kram, sering berkemih, serta mengalami konstipasi.

Kerap kali keluhan-keluhan tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran pada Ibu hamil dan pasangannya. Namun, yang perlu diwaspadai adalah jika ternyata keluhan yang dirasakan dapat terjadi akibat perubahan yang tak normal atau patologis.

Cara Mengatasi Keluhan Saat Hamil

Mudah Lelah

Mudah lelah menjadi salah satu keluhan Ibu hamil yang sangat sering dirasakan. Perubahan kadar hormon, pembentukan plasenta serta metabolisme secara alami dapat menyebabkan tubuh menjadi mudah merasa letih. Bahkan, Ibu bisa tiba-tiba merasa sulit tidur saat malam hari atau justru selalu mengantuk sepanjang hari. Adapun cara untuk mengurangi Lelah:

Saat malam hari tidur lebih awal.
Manfaatkanlah waktu istirahat siang guna membantu mengurangi rasa kantuk ketika bekerja.
Konsumsilah makanan dengan nutrisi cukup serta seimbang untuk menjaga kesediaan energi. Paling tidak konsumsilah 5 porsi buah dan sayur segar setiap hari.
Bila memungkinkan, mintalah bantuan orang lain mengerjakan pekerjaan yang tidak sanggup Ibu kerjakan sendiri, seperti menyetrika dan mencuci pakaian.
Mengatur kegiatan dengan efektif mungkin juga bisa menjadi kunci agar tubuh tidak mudah lelah ketika hamil.
Sakit Kepala

Perubahan bentuk tubuh Ibu dan hormon akan menyebabkan Ibu hamil tidak jarang merasakan sakit kepala. Walau merupakan hal yang umum terjadi, tetapi banyak Ibu hamil yang kebingungan karena cemas jika obat sakit kepala berisiko dapat membahayakan bayi. Berikut cara mengatasi keluhan saat hamil pada sakit kepala:

Berbaring dan tempatkanlah kompres dingin di kepala.
Rutinlah berolahraga ringan, seperti berjalan kaki atau senam ringan.
Hindarilah pemicu sakit kepala, seperti akibat minum kopi atau makanan manis.
Istirahat secara teratur serta konsumsilah cukup air mineral untuk mengurangi sakit kepala.
Kelola stres guna menghindari sakit kepala akibat tekanan psikologis.
Lakukanlah teknik relaksasi secara teratur, seperti mengikuti pijat, yoga, dan visualisasi.
Walaupun terbilang umum, tetapi sakit kepala parah yang tak kunjung berhenti bisa menjadi suatu penyakit serius, seperti tekanan darah tinggi. Bila hal ini terjadi, sebaiknya konsultasikanlah kepada dokter guna mendapatkan pengobatan yang tepat.

Mual dan Muntah

Mual dan muntah merupakan kondisi yang sangat sering dialami wanita hamil. Perubahan kadar hormon human chorionic gonadotropin dan estrogen, sensitivitas kepada bau-bauan, perut lebih sensitif dan stres bisa menjadi penyebab umum kepada mual dan muntah ketika hamil. Cara untuk membantu keluhan saat hamil pada rasa mual dan muntah:

Hindarilah berbaring sesudah makan, dengan posisi menyamping ke kiri.
Guna mengurangi risiko mual dipagi hari, bangunlah perlahan-lahan dengan duduk dulu hindari langsung berdiri setelah berbaring. Bila ada, Ibu bisa mengonsumsi sedikit biskuit sebelum berdiri.
Hindarilah makan-makanan berlemak, pedas, gorengan dan makanan yang mengandung asam yang bisa menyebabkan iritasi di saluran pencernaan.
Sebisa mungkin, hindari pula makanan yang aromanya memicu mual. Cobalah untuk menyantapnya ketika suhu makanan dingin dan tidak terlalu mengeluarkan aroma kuat.
Berbagai keluhan Ibu hamil tidak boleh disepelekan, untuk itu segeralah konsultasikan kepada dokter bila muntah berlangsung secara terus-menerus tidak kunjung mereda. Waspadai jika kekurangan nutrisi dan cairan bisa membahayakan kesehatan bayi. Ibu bisa mengonsumsi susu yang mengandung vitamin B dan protein untuk mengurangi rasa mual atau muntah yang mengganggu

Sumber : Prenagen