Waspadai Risiko Komplikasi Saat Kehamilan

Dalam periode kehamilan, kamu tentunya sangat berhati-hati untuk menjaga kandungan dalam perut agar tetap sehat dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Hanya saja, tanpa disadari banyak sekali risiko komplikasi yang bisa menimpa kamu para ibu hamil. Oleh sebab itu, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ada baiknya kamu mengenali beberapa risiko komplikasi berikut ini agar bisa melakukan tindakan pencegahan. Apa saja, ya?

Kehamilan anggur. Pernah dengar mengenai hamil anggur? Hamil anggur atau yang dikenal juga sebagai kehamilan yang gagal merupakan sebuah kondisi di mana terjadi kelainan pada proses perkembangan sel telur setelah dibuahi sehingga gagal tumbuh menjadi janin. Hingga saat ini, kehamilan anggur masih belum dapat dideteksi penyebabnya sehingga diagnosis sedini mungkin terhadap kondisi ini sangatlah disarankan.
Plasenta Previa. Plasenta Previa atau perlekatan plasenta merupakan suatu kondisi ketika plasenta menutupi leher rahim sehingga berpotensi untuk menutupi jalan lahir. Kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi saat kehamilan berupa pendarahan, terutama ketika kamu mengalami kontraksi. Jika hal ini terjadi, mengingat jalan lahir sudah tertutup, dokter biasanya akan menyarankan untuk operasi cesar agar pendarahan tidak berlanjut.
Preeklampsia. Preeklampsia merupakan kondisi yang sering menimpa ibu hamil, terutama ketika usia kehamilan sudah memasuki minggu ke-20 atau lebih. Komplikasi ini cukup membahayakan, sebab kondisi ini seringnya tidak disadari oleh ibu hamil. Padahal, preeklampsia menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu dan janinnya, lho. Meski hingga saat ini penyebab pasti preeklampsia masih belum diketahui, kamu disarankan untuk melakukan pengaturan makanan, istirahat yang cukup, dan mengawasi kehamilan untuk menurunkan risiko preeklampsia ini.
Kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik merupakan sebuah kondisi di mana pembuahan sel telur terjadi di luar rahim. Biasanya, hal ini terjadi di dalam tuba falopi atau di saluran telur. Diagnosa mengenai komplikasi kehamilan ini penting untuk dideteksi sedini mungkin agar tidak membahayakan ibu hamil dan bisa ditangani secara lebih lanjut.
Diabetes Gestasional. Komplikasi lain yang sering menghantui ibu hamil adalah diabetes gestasional. Diabetes gestasional sendiri merupakan tipe diabetes yang sering berkembang selama periode kehamilan. Jika kamu mengidap diabetes gestasional, jangan khawatir sebab penderita diabetes ini tetap bisa memiliki kehamilan yang sehat jika menjalani serangkaian terapi. Dan lagi, seringnya diabetes ini sembuh setelah kamu berhasil melahirkan si kecil. Hanya saja, risiko untuk mengidap diabetes tipe 2 akan lebih besar jika kamu sudah pernah mengidap diabetes gestasional sebelumnya.
Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Untuk kamu yang punya kebiasaan merokok, sebaiknya harus berhati-hati nih. Sebab kebiasaan merokok ketika hamil bisa menimbulkan komplikasi pada janin seperti lahir prematur, cacat lahir, atau bahkan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) yang berujung pada kematian bayi.
Nah, mengingat beberapa kondisi komplikasi di atas bisa sangat membahayakan untuk kamu dan janin di dalam perut, menemui dokter kandungan dan melakukan pemeriksaan secara rutin sangatlah disarankan. Tidak hanya itu, menjaga kandungan agar tetap sehat dengan mengontrol makanan yang masuk dan beristirahat yang cukup juga harus dilakukan.

Sumber : Prenagen

Inilah 5 Cara Relaksasi Pada Ibu Hamil

Pada saat hamil, stres adalah salah satu pantangan yang tidak boleh dirasakan oleh Ibu. Sebab stres yang berkepanjangan dapat berdampak buruk pada janin, di antaranya menyebabkan kelainan proses pembentukan otak janin, menghambat tumbuh kembang janin, dan bisa menyebabkan Ibu mengalami persalinan prematur. Sayangnya stres bukanlah sesuatu yang bisa dihindari karena kondisi lingkungan maupun perubahan hormon yang dialami oleh Ibu.

Meskipun begitu, Ibu bisa mencegah efek negatifnya pada janin dengan segera mengelola stres tersebut dengan cara yang tepat. Mereleksasi pikiran adalah salah satu cara ampuh untuk mengatasi stres, dan berikut ini adalah 5 cara releksasi yang aman untuk Ibu coba:

1. Atur Pernapasan

Mengatur pernapasan adalah salah satu cara relaksasi yang terlihat mudah namun sebenarnya cukup sulit. Ibu bisa melakukannya dengan posisi duduk ataupun berbaring, yang penting Ibu berada dalam posisi santai. Pejamkan mata dan carilah posisi terbaik untuk otot Ibu, kemudian tarik napas dari hidung secara perlahan. Lakukan 10-12 menit setiap harinya untuk membuat tubuh terasa nyaman.

2. Lakukan Hobi

Lakukanlah hobi Ibu selama hal tersebut tidak akan mengganggu atau membahayakan kandungan. Misalnya hobi membaca, menulis, atau menonton. Jika hobi Ibu adalah memasak, pastikan bahwa Ibu tidak sensitif dengan bau-bauan yang berisiko meningkatkan rasa mual dan muntah. Sebab jika dipaksakan akan memberi dampak buruk pada janin.

3. “Membiasakan Snacking yang Sehat”

Ibu hamil disarankan untuk memiliki snacking time. Tentunya, snack yang dikonsumsi adalah snack sehat yang aman.

4. Berjalan-jalan

Manfaatkan waktu kosong yang Ibu punya dengan berjalan-jalan. Jika memungkinkan, Ibu bisa menenangkan pikiran dengan berwisata. Namun jika tidak, Ibu juga bisa berjalan-jalan ke area taman sekitar tempat tinggal. Berjalan-jalan dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar akan membantu Ibu merasa rileks.

5. Senam Hamil

Ibu mungkin mengalami stres akibat membayangkan rasa sakit yang dirasakan saat persalinan. Senam hamil ini akan membantu mengurangi kecemasan tersebut. Pada saat senam hamil, Ibu akan diajarkan bagaimana teknik pernapasan dan cara mengejan yang benar agar persalinan lancar. Senam hamil juga dapat mengurangi beberapa keluhan yang Ibu rasakan selama kehamilan. Bagi Ibu yang berencana melakukan senam hamil, disarankan untuk mulai melakukannya sejak kandungan memasuki usia 28 minggu.

Dengan melakukan kelima hal di atas secara rutin, tubuh maupun pikiran Ibu akan menjadi relaks sehingga dapat terhindar dari stres.

Sumber : Prenagen

Cara Praktis Mengatasi Keluahan Saat Hamil

Beberapa perubahan kadar hormon maupun perkembangan janin, menjadikan Ibu hamil sering mengalami keluhan saat hamil akan berdampak terhadap rutinitas. Ibu hamil akan merasakan banyak perubahan selama 3 bulan pertama kehamilan, seperti merasakan mual, lelah, perubahan mood, nyeri punggung, merasakan kram, sering berkemih, serta mengalami konstipasi.

Kerap kali keluhan-keluhan tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran pada Ibu hamil dan pasangannya. Namun, yang perlu diwaspadai adalah jika ternyata keluhan yang dirasakan dapat terjadi akibat perubahan yang tak normal atau patologis.

Cara Mengatasi Keluhan Saat Hamil

Mudah Lelah

Mudah lelah menjadi salah satu keluhan Ibu hamil yang sangat sering dirasakan. Perubahan kadar hormon, pembentukan plasenta serta metabolisme secara alami dapat menyebabkan tubuh menjadi mudah merasa letih. Bahkan, Ibu bisa tiba-tiba merasa sulit tidur saat malam hari atau justru selalu mengantuk sepanjang hari. Adapun cara untuk mengurangi Lelah:

Saat malam hari tidur lebih awal.
Manfaatkanlah waktu istirahat siang guna membantu mengurangi rasa kantuk ketika bekerja.
Konsumsilah makanan dengan nutrisi cukup serta seimbang untuk menjaga kesediaan energi. Paling tidak konsumsilah 5 porsi buah dan sayur segar setiap hari.
Bila memungkinkan, mintalah bantuan orang lain mengerjakan pekerjaan yang tidak sanggup Ibu kerjakan sendiri, seperti menyetrika dan mencuci pakaian.
Mengatur kegiatan dengan efektif mungkin juga bisa menjadi kunci agar tubuh tidak mudah lelah ketika hamil.
Sakit Kepala

Perubahan bentuk tubuh Ibu dan hormon akan menyebabkan Ibu hamil tidak jarang merasakan sakit kepala. Walau merupakan hal yang umum terjadi, tetapi banyak Ibu hamil yang kebingungan karena cemas jika obat sakit kepala berisiko dapat membahayakan bayi. Berikut cara mengatasi keluhan saat hamil pada sakit kepala:

Berbaring dan tempatkanlah kompres dingin di kepala.
Rutinlah berolahraga ringan, seperti berjalan kaki atau senam ringan.
Hindarilah pemicu sakit kepala, seperti akibat minum kopi atau makanan manis.
Istirahat secara teratur serta konsumsilah cukup air mineral untuk mengurangi sakit kepala.
Kelola stres guna menghindari sakit kepala akibat tekanan psikologis.
Lakukanlah teknik relaksasi secara teratur, seperti mengikuti pijat, yoga, dan visualisasi.
Walaupun terbilang umum, tetapi sakit kepala parah yang tak kunjung berhenti bisa menjadi suatu penyakit serius, seperti tekanan darah tinggi. Bila hal ini terjadi, sebaiknya konsultasikanlah kepada dokter guna mendapatkan pengobatan yang tepat.

Mual dan Muntah

Mual dan muntah merupakan kondisi yang sangat sering dialami wanita hamil. Perubahan kadar hormon human chorionic gonadotropin dan estrogen, sensitivitas kepada bau-bauan, perut lebih sensitif dan stres bisa menjadi penyebab umum kepada mual dan muntah ketika hamil. Cara untuk membantu keluhan saat hamil pada rasa mual dan muntah:

Hindarilah berbaring sesudah makan, dengan posisi menyamping ke kiri.
Guna mengurangi risiko mual dipagi hari, bangunlah perlahan-lahan dengan duduk dulu hindari langsung berdiri setelah berbaring. Bila ada, Ibu bisa mengonsumsi sedikit biskuit sebelum berdiri.
Hindarilah makan-makanan berlemak, pedas, gorengan dan makanan yang mengandung asam yang bisa menyebabkan iritasi di saluran pencernaan.
Sebisa mungkin, hindari pula makanan yang aromanya memicu mual. Cobalah untuk menyantapnya ketika suhu makanan dingin dan tidak terlalu mengeluarkan aroma kuat.
Berbagai keluhan Ibu hamil tidak boleh disepelekan, untuk itu segeralah konsultasikan kepada dokter bila muntah berlangsung secara terus-menerus tidak kunjung mereda. Waspadai jika kekurangan nutrisi dan cairan bisa membahayakan kesehatan bayi. Ibu bisa mengonsumsi susu yang mengandung vitamin B dan protein untuk mengurangi rasa mual atau muntah yang mengganggu

Sumber : Prenagen

Ternyata Inilah Beberapa Cara Mengeluarkan Dahak pada Bayi dengan Aman

Dahak atau yang dikenal dengan slam bisa menjadikan tenggorokan bayi Ibu tidak nyaman, menghalangi pernapasan dan mengganggu ketika sedang menelan ASI. Hal tersebut membuat bayi Ibu sering kali menangis. Perubahan kondisi kesehatan bayi, terutama yang berkaitan dengan gangguan kesehatan, sering kali juga disertai dengan batuk yang berdahak. Sebenarnya, cara mengeluarkan dahak pada bayi tidak sesulit apa yang Ibu hayangkan. Adapun batuk berdahak, umumnya disebabkan oleh beberapa kondisi seperti pilek, batuk, flu yang disebabkan oleh virus.

Cara Mengeluarkan Dahak pada Bayi dengan Tepat

Ternyata, terdapat beberapa cara mengeluarkan dahak pada bayi yang efektif dan aman yang bisa Ibu lakukan. Antara lain sebagai berikut:

Mengonsumsi Asi, juga akan membantu bayi Ibu untuk mengeluarkan dahak melalui feses. Hal itu dapat dilakukan ketika bayi mengeluarkan air ludah atau bersin dan muntah.
Ibu juga dapat menggunakan alat khusus guna mengeluarkan dahak dari bahan karet. Bila diperlukan, gunakanlah menyedot dahak di bagian mulut dan hidung. Pertama, Ibu bisa menyedot mulut terlebih dulu, dengan menempatkan ujung penyedot ke dalam rongga mulutnya.
Saat bayi mengeluarkan dahak hindari menyedot mulut ataupun hidung bayi usai menyusu atau makan, sebab bisa menyebabkan muntah. Bila bayi Ibu mengalami muntah dan sulit bernapas, Ibu bisa membatasi penyedotan.
Cara mengeluarkan dahak pada bayi yaitu, dengan menghangatkan bayi. Dahak yang mengental di saluran pernafasannya, menjadi hal yang paling sering membuat bayi mengalami gelisah. Terutama, saat bayi ingin tidur dan saat makan. Sama halnya seperti orang dewasa, dahak juga akan membuat bayi gelisah. Bahkan, makanpun menjadi tidak enak. Hawa panas yang dihasilkan tubuhnya dapat membantu dalam mengencerkan dahak dan mengeluarkannya. Selain memakaikannya baju hangat, Ibu juga bisa memberikannya minyak khusus, contohnya minyak telon. Namun, perlu Ibu ingat beberapa bayi juga bisa mengalami alergi akibat minyak telon. Selain itu, Ibu juga dapat membuat ruangan agar tetap hangat, bersih dan cukup steril dari debu guna mencegah penumpukan dahaknya.
Apabila Ibu memilih untuk melakukan terapi air hangat dan minyak kayu putih mengeluarkan dahaknya, Ibu dapat memosisikan bayi dalam kondisi tengkurap dengan posisi kepalanya yang lebih rendah daripada tubuhnya. Setelah itu, Ibu dapat menepuk-nepuk punggungnya guna membantunya mendorong darak di saluran pernafasannya. Jadi, dahak sudah menjadi lebih encer dan dahaknya juga akan lebih mudah keluar.
Cara mengeluarkan dahak pada bayi selanjutnya yaitu, dengan menidurkan bayi Ibu dengan posisi yang berbeda. Apabila biasanya saat tidur posisi kepalanya sejajar dengan badan, maka Ibu dapat mengubahnya. Ibu bisa memberikan bantal pada kepalanya agar posisi kepalanya lebih tinggi. Posisi tersebut, cukup membantunya dalam mengatasi hidung tersumbat dan mengeluarkan dahak di saluran pernasafannya. Tak hanya itu, Ibu juga bisa memosisikan bayi dengan posisi tengkurap saat tidur, sehingga membantu Ibu untuk mengeluarkan dahaknya. Namun, pastikan dulu jika posisi tersebut tidak ada menghalangi hidung dan saluran pernafasannya.

Cara Mengencerkan Dahak pada Bayi

Salah satu cara mengencerkan dahak pada bayi yaitu, Ibu bisa mengencerkan dahak yang ada di dalam terlebih dahulu. Hal itu bertujuan, untuk mengencerkan dahak sehingga mudah untuk dibuang di dalam tubuh bayi. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengencerkan dahak bayi:

Banyak minum, manjadi salah satu alasan kenapa bayi sulit mengeluarkan dahak. Hal itu disebabkan, adanya dahak yang mengental. Namun, hal itu bisa dibuat encer dengan cara banyak minum. Ibu dapat memberinya ASI ataupun cairan lainnya, termasuk air putih, jus buah, sup, dan lain-lain sesuai dengan usianya.
Hangatkanlah badan bayi terutama di area dada, dengan cara mengajaknya berjemur di bawah sinar matahari pagi. Ibu bisa mengajaknya berjemur dari pukul 06.30-07.00 selama kurang lebih 10 hingga 15 menit. Pilihlah tempat yang aman dari asap maupun debu, dan usahakanlah agar bayi tidak menatap sinar matahari secara langusng, Ibu bisa memberi banyi Ibu kain penutup mata.
Oleskan pula balsem khusus atau minyak kayu putih pada dada bayi di sekitar leher. Rasa hangat yang ditimbulkan, dapat membantu untuk mengencerkan dahak. Uap hangat yang dihirup juga dapat melegakan pernafasan. Hal ini akan memberikan rasa hangat pada tubuh bayi yang menenangkan. Pastikan pula untuk tidak terlalu banyak menggunakannya agar tidak kepanasan.
Ibu bisa segera menerapkan beberapa cara mengeluarkan dahak pada bayi yang aman seperti di atas. Tetapi, jika dahak tidak juga kunjung sembuh, bahkan disertai dengan beberapa gejala yang berbahaya, sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Hal itu bertujuan, agar bayi Ibu dapat segera mendapatkan perawatan yang lebih baik. Perhatikan pula berbagai makanan yang bayi Ibu konsumsi agar kekebalan tubuh bayi tetap terjaga. Sehingga bayi dapat terhindar dari berbagai penyakit.

Sumber : prenagen

Beginilah Cara Sederhana Mengobati Bayi Cegukan

Bagi orang tua yang baru pertama kali mempunyai bayi, cegukan untuk pertama kalinya memang membuat panik. Sebenarnya menghadapi bayi cegukan tidak perlu berlebihan, karena biasanya bisa segera hilang dengan sendirinya. Meski demikian, terdapat beberapa tanda dari cegukan bayi yang memerlukan perhatian lebih. Cegukan sebetulnya merupakan reaksi diafragma, yakni otot yang memisahkan rongga perut dan dada, tepatnya di bawah tulang rusuk yang berguna dalam membantu mengendalikan pernapasan. Reaksi demikian, menyebabkan diafragma mengencang secara tiba-tiba, dan tanpa diketahui bisa menutup pita suara di kerongkongan, sehingga menghasilkan bunyi cegukan di bagian atas tenggorokan.

Alasan Terjadinya Bayi Cegukan

Secara medis, cegukan biasa disebut dengan singultus. Adapun pemicu bayi cegukan yaitu, mengonsumsi terlalu banyak makanan, masuknya udara ketika sedang mengunyah, atau saat bayi merasa tegang. Umumnya, cegukan tersebut terjadi ketika bayi mengisap udara berlebihan ketika sedang menyusu. Menjadikan bayi sendawa setelah menyusu, adalah salah satu cara guna mengeluarkan udara dari perut agar bayi terhindar dari rasa tak nyaman dan risiko cegukan lainnya.

Walaupun bagi sebagian orang tua merasa jika cegukan bayi cukup mengganggu. Tetapi sebenarnya tidak demikian bagi bayi, selama cegukan tidak memengaruhi aktivitas bayi sehari-hari. Bayi mempunyai kekebalan tubuh yang berbeda-beda. Itulah sebabnya sebagian bayi mempunyai kemungkinan lebih rentan mengalami cegukan dibandingkan dengan bayi lain.

Atasi Bayi yang Sering Cegukan

Cegukan tak hanya dialami pada orang dewasa saja, melainkan juga pada bayi. Cegukan yang terjadi pada bayi sering kali menjadikan orang tua cemas, padahal cegukan terhadap bayi bukanlah kondisi yang harus Ibu cemaskan. Cegukan yang terjadi terhadap bayi, disebabkan oleh masalah ketika bayi mengalami perubahan emosi. Bayi yang mengalami cegukan, umumnya akan hilang dengan sendirinya dan tidak akan membahayakan kesehatan bayi. Meskipun demikian, beberapa penyebab bayi cegukan bisa Ibu kenali dari usia bayi yang berusia 3 bulan. Kondisi bayi yang mengalami cegukan bisa terjadi dikarenakan belum matangnya fungsi saraf, yang berfungsi untuk mengatur diafragma bayi.

Cara Cerdas Mengatasinya

Ibu tidak perlu khawatir jika cegukan terjadi pada bayi Ibu. Hal itu disebabkan, cegukan yang terjadi pada bayi akan menghilang karena bayi sudah mempunyai keseimbangan pada sistem tubuhnya seiring pertumbuhan usia bayi Ibu. Jika demikian, bayi Ibu tidak akan sering merasakan cegukan. Cegukan memang tidak menjadi pertanda yang membahayakan, akan tetapi jika dibiarkan akan mengganggu kenyamanan bayi Ibu. Berikut beberapa cara untuk mengatasinya.

Ubahlah Posisi ketika Menyusui
Saat Ibu mendapatkan ASI, maka sering kali bayi menelan udara berlebih yang memicu terjadinya cegukan. Namun, jika bayi Ibu mengalami hal demikian, Ibu dapat mengatasinya dengan mengubah posisi menyusui bayi Ibu. Hal itu dapat membatasi jumlah udara yang masuk ke dalam mulutnya. Jika cegukan yang dialami oleh bayi frekuensinya lebih sering, lebih baik jika Ibu menghentikan sementara air susu. Sebab jika tidak, dikhawatirkan akan membuat bayi tersendak.
Usahakan Bayi bersendawa setelah mendapatkan ASI
Membuat bayi Ibu bersendawa setelah memperoleh ASI, menjadi salah satu cara untuk mengurangi bayi Ibu mengalami cegukan. Jika bayi bersendawa, maka ia dapat mengeluarkan udara yang berlebihan di dalam perutnya. Di samping itu, dengan bersendawa bisa melepaskan kejang otot bayi, sehingga akan menghentikan cegukan yang dialami bayi Ibu. Cara yang bisa Ibu lakukan agar bayi bisa bersendawa yaitu, dengan membuat bayi berdiri. Setelah itu, posisikan badan bayi Ibu berada di bagian pundak, sehingga badan bayi Ibu sejajar dengan pundak Ibu.
Membuat Jadwal Makan yang Teratur
Membiasakan memberikan makanan dengan teratur pada bayi, dapat membuatnya mengurangi kebiasaan cegukan. Pemberian makanan secara teratur, sangat berguna ketika bayi Ibu berusia 6 bulan ke atas. Jadi, Ibu bisa memberikan jadwal dalam pemberian makanan pendamping ASI untuk bisa menyesuaikan kondisi bayi Ibu. Pemberian makanan yang baik yaitu, sebelum lapar dan menghentikan makanan sesudah kenyang. Ibu harus ingat, jika yang dialami oleh anak Ibu dapat menjadi masalah lambung jika cegukan yang dialami oleh anak yang disertai dengan muntah.
Pijat Perlahan Bagian Belakang
Ibu bisa menangkan bayi cegukan, dengan memijat bagian belakang tubuh secara perlahan-lahan. Maksudnya, dengan menggosok punggung bayi Ibu dengan tenang, sehingga cegukan yang dirasakan bayi Ibu dapat berkurang. Ibu tidak perlu khawatir karena cegukan sementara waktu tidak membuatnya berbahaya.
Jadi jika bayi cegukan, Ibu dapat menerapkan beberapa cara di atas. Perlu Ibu ingat, bahwa cegukan belum tentu membahayakan. Segera periksa ke dokter jika tidak terjadi hal yang tidak sewajarnya pada bayi ketika mengalami cegukan. Penuhi pula bayi Ibu dengan nutrisi yang cukup demi mendukung tumbuh kembang bayi. Jangan meremehkan berbagai hal yang bayi Ibu alami, sebab justru dari hal tersebut bayi dapat mengalami risiko berbahaya.

Sumber : Prenagen

Penyebab Dan Cara Mengatasi Bayi Sering Kentut

Bayi sering kentut, umumnya dialami oleh bayi yang baru lahir atau saat usia kurang dari satu tahun. Bahkan, hampir setiap bayi pasti pernah mengalaminya. Pasalnya, kentut bayi memang terkesan ringan dan lembut. Umumnya, hal tersebut sangat umum terjadi pada bayi. Akan tetapi, jika bayi sering kentut tentunya akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada bayi, apalagi kedua orang tua pasti akan merasa khawatir. Sistem pencernaan yang belum seluruhnya berkembang ketika bayi baru lahir, merupakan penyebab utama bayi menjadi sering kentut. Hal ini sebetulnya bukanlah suatu pertanda adanya gangguan kesehatan yang bersifat sangat fatal, hanya saja perasaan yang tidak nyaman dirasakan bayi sering kali menjadikan orang tua khawatir. Hal itu membuat orang tua segera mencari solusinya. Oleh sebab itu, ada baiknya bila orang tua mengenali apa saja yang bisa menjadi penyebabnya. Dengan begitu, Ibu akan menjadi lebih mudah mengatasi masalah ini.

Penyebab Bayi Sering Kentut

Kenalilah gejala bayi sering kentut dengan usia kurang dari satu tahun, terutama saat 6 bulan pertama. Saat-saat itu, kehidupan bayi sangat rentan pada masalah gas pencernaan. Beberapa gejala yang terjadi seperti, perut kembung, perut buncit dan sering kentut. Gejala – gejala tersebut bisa membuat bayi menjadi tidak nyaman sehingga bayi menjadi lebih banyak menangis, gelisah dan mengalami gangguan tidur. Adapun beberapa penyebabnya yang harus Ibu ketahui sejak dini, antara lain:

Ketika sedang menyusui
Gelembung udara dan gas bisa ikut masuk tertelan ke dalam saluran pencernaan bayi. Biasanya, hal ini terjadi ketika bayi sedang menghisap air susu yang terlalu cepat, terutama jika bayi menghisap air susu melalui botol.
Saluran cerna belum sempurna
Gas dan juga gelembung udara juga bisa dihasilkan oleh tubuh melalui fermentasi laktosa, yaitu (karbohidrat susu) oleh mikroorganisme di dalam usus besar. Hal ini dapat terjadi karena, laktosa tidak diserap sempurna di usus halus, sehingga akan menyebabkannya terbawa hingga ke usus besar serta megalami fermentasi yang menghasilkan gas.
Pola makan Ibu
Ibu yang terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gas seperti kol, jenis kacang – kacangan dan juga makanan olahan dari susu. Hal ini akan memberikan gas yang lebih banyak pada ASI dan pastinya akan berdampak pada bayi.

Cara Mengatasi Bayi Sering Kentut

Bayi kentut, memang bukanlah sebuah tanda yang bahaya bagi kesehatan bayi. Akan tetapi, penanganan dan pencegahan bukan berarti tidak diperlukan untuk mengatasi hal ini. Perlu dilakukan, agar Ibu bisa lebih merasa nyaman, baik saat beristirahat maupun ketika bermain. Berikut beberapa cara tepat dan aman yang bisa Ibu lakukan, antara lain:

Stimulasi Sendawa
Langkah awal yang perlu Ibu lakukan untuk mengatasinya yaitu, dengan membatasi jumlah udara yang masuk ke dalam lambung melalui stimulasi sendawa. Stimulasi sendawa dapat Ibu lakukan dengan cara menggendong bayi dengan posisi berdiri, menyandarkan kepalanya di bahu Ibu, ataupun menepuk punggungnya dengan pelan. Lakukan stimulasi ini setiap Ibu sedang menyusui hingga bayi mulai mengeluarkan sendawanya. Harus Ibu ketahui, bahwa teknik stimulasi sendawa ini juga bisa membantu mengatasi masalah bayi sering gumoh.
Perhatikan Ukuran Dot
Apabila bayi Ibu masih menyusui melalui dot, agar bayi tidak sering kentut, Ibu harus memperhatikan dengan baik ukuran dot yang akan digunakan. Hal ini disebabkan, dot yang terlalu besar atau terlalu kecil, bayi akan menghisap udara terlalu banyak ketika ia sedang menyusu. Selain itu, sesuaikan pula ukuran dotnya dengan usia bayi Ibu.
Gunakan Telon
Mengatasi bayi sering kentut juga bisa Ibu lakukan dengan membalurkan minyak telon di area sekitar perutnya. Hal ini bertujuan, untuk menstimulasi keluarnya gas di dalam usus si bayi. Gas yang sangat banyak di dalam perut akan membuat si bayi merasa tidak nyaman, bahkan sering rewel. Ibu bisa mengatasi hal demikian, dengan pembaluran minyak telon. Sangat dianjurkan, untuk mengombinasikan minyak telon tersebut dengan teknik pijatan sederhana.
Perhatikan MPASI bagi Bayi
Salah satu alasan mengapa bayi terlalu sering kentut yaitu, karena pengaruh konsumsi makanan pengganti ASI. Oleh sebab itu, selektiflah dalam memilih makanan pelengkap baginya, terutama apabila ada keluarga Ibu yang memang mempunyai riwayat intoleransi terhadap jenis makanan tertentu.
Botol Susu Bayi
Gunakan pula botol susu bayi yang sedikit berlekuk atau miring. Hal ini akan membantu bayi untuk mengurangi udara yang tertelan sewaktu bayi meminum susu dari botolnya. Selain itu, botol susu yang sedikit miring akan mengurangi risiko bayi sering bersendawa.
Apabila memang bayi sering kentut, tidak ada salanya jika Ibu mengikuti langkah pertolongan di atas. Apabila kondisinya tak kunjung membaik, segeralah hubungi dokter. Terutama apabila Ibu merasa bayi terlalu sering kentut, sehingga membuatnya merasa tidak nyaman.

Sumber : Prenagen